Tanah Air Beta, Katanya

Indonesia sudah merdeka, katanya.

Pancasila hampir jadi wacana, faktanya.

Cinta perberdaan, ujarnya.

Beda dialek, ketawa.

Indonesia… Indonesia…

Kau indah, kata mereka.

Indonesia memang indah, tapi entah masyarakatnya.

Apalagi pemerintahannya.

Aku cinta Indonesia, diumbarnya.

Tapi lebih bangga gunakan bahasa tetangga.

Indonesia… Indonesia…

Kapankah engkau ‘kan merdeka?

Bukan tergerus karena kelakuan anak kandungnya.

Indonesia menangis, rupanya.

Pilu selimuti batin dan raganya.

Yang dulu kaya, sekarang miskin moralnya.

Sabar, Indonesia.

Suatu saat kau ‘kan temui indahnya.

“Kapan?” Tanyanya

Ya, sabar aja.

Surabaya, 17 Agustus 2017

-keajaBian-

Jika rasa memang ada, haruskah ia yang tak kupunya? Jika ia adalah indah, mengapa sulit 'tuk meraihnya.

Bukan tanpa alasan hati ini memilihnya. Entah, rasanya istimewa. Meski ia berbeda, hati ini tetap tertuju padanya. Kharismanya kalahkan ribuan rona tampan yang menggoda mata.

Ah, lupa. Cinta tak selalu tentang rupa. Cinta tak masuk logika jua. Teka teki yang guncangkan dunia.

ANAK ISTIMEWA

Tidak ada yang mengharap menjadi anak broken home. Semua pasti ingin tumbuh di keluarga normal yang harmonis.
Terkadang memang sakit melihat mereka yang tertawa lepas dengan keluarga yang lengkap. Ada rasa ingin dan iri. 
Kawan, janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, bukan? Jangan marah dengan keadaan, ini jalan terbaik dari Tuhan. 
Mari coba maafkan masalalu, buatlah hidup baru. Jangan terbebani oleh masalah mereka (orang tua). Itu urusan orang dewasa, yang harus kalian lakukan hanyalah mengambil hikmah dan mencoba lebih baik dimasa mendatang.
Kawan, jangan jadikan broken home alasan untuk gagal. Jadikan broken home alasan untuk sukses kalian kelak. 
Broken home tidak seburuk itu, kok. Coba kita balik pemikiran kita. Anggap broken home sebuah anugerah, bukan musibah. Sejatinya, apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita.
Broken home unbroken spirit!
-keajaBian-

Sebuah Rasa


Aku tak begitu menahu tentang rasa. Hanya saja kali ini berbeda, sedikit.

Aku tak berkisah tentang amarah, namun asmara.

Sejujurnya, tak pernah terlintas akan ada rasa. Sering berjalannya waktu, ia ada. Ia nyata.

Tidak, tidak mungkin ini halusinasi. Aku yakin, sangat yakin. 

Kecewa yang timbulkan rasa, kepergian yang buat ia ada. Hanya saja, takut itu tak kunjung sirnah.

Aku tau, sangat tau, yang ada dan hadir hanya sementara. Pada akhirnya semua akan pergi meninggalkan.

Aku tak mau nikmati euforia yang nantinya jadi nestapa. Ah, entah. Begitu rumit cinta. Atau aku yang mempersulitnya?

Gresik, 2017

  • -keajaBian-

Misi


Ku pacu ingatan untuk berkunjung ke masa lalu
Aku ingat betul, kala itu ia diantara hidup dan mati
Lahir dan mati adalah hal yang tak dapat dipungkiri

Sesekali, berkoreksi saat lahir untuk mati
Terlahir berpesta

Matipun juga

Bukankah ini tujuan utama?

Gresik, 2017

5 Juli


Setiap tahun ini menjadi tanggal yang sangat spesial. Terkecuali tahun ini. Harapku hanya agar bisa mengulang kenangan 5 Juli. Ah, bodohnya.

Iya, selamat ulang tahun untukmu, bapak. Tiap hembusan nafasku terselip doa untukmu. Semoga kau baik-baik saja. Ah, tentu. Pastinya kau sudah bahagia.

Tidak apa-apa. Luka ini perlahan-lahan akan sembuh sendirinya. Ya, walaupun pedih masih pekat terasa.

Iya, hanya tangis terpendam yang temaniku tiap petang.

Bapak, andai kau tau. Ku lakukan yang terbaik untukmu. ‘Tuk banggakanmu. Namun semua hanya sia-sia. Tiada pujian yang ku terima. Ya, hal kecil yang selalu ku dambakan.

Tak apa, bapak. Anak pecundangmu ini akan menghantam kerasnya dunia, nanti. Esok, jika kau kembali. Anakmu ini akan jadi orang hebat. Semua hormat dan puji bertubi-tubi datang padaku. Dan padamu, tentu. Semoga, itu dapat ukir senyum banggamu. Aamiin.

Bapak, tak terhitung betapa berat rinduku padamu. Namun, seolah ada benteng yang membatasi itu semua. Begitu sulit untuk menembusnya, bapak. Belum lagi, benalu yang terus menempel pada benteng itu. Ah, semoga tembok mengikis seiring berjalannya waktu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, bapak. Salam rindu dan sayangku padamu, bapak.

Dari,

Bocah pecundang yang rindukan pelukmu.
-penari aksara-